Senin, 28 Februari 2011

kerajaan kalingga

Menurut Buku sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) Mencatat Bahwa Pada Tahun 674 M Seorang Musafir Tionghoa Bernama I-Tsing Pernah Mengunjungi Negeri Holing Atau Kaling Atau Kalingga Yang Juga Disebut Jawa Atau Japa Dan Diyakini Berlokasi Di Keling, Kawasan Timur Jepara Sekarang Ini, Serta Dipimpin Oleh Seorang Raja Wanita Bernama Ratu Shima Yang Dikenal Sangat Tegas. Asal Nama Jepara Berasal Dari Perkataan Ujung Para, Ujung Mara Dan Jumpara Yang Kemudian Menjadi Jepara, Yang Berarti Sebuah Tempat Pemukiman Para Pedagang Yang Berniaga Ke Berbagai Daerah. Sedangkan Menurut Sebuah Catatan Portugis Bernama Tome Pires Dalam Bukunya suma Oriental, Jepara Baru Dikenal Pada Abad Ke-Xv (1470 M) Sebagai Bandar Perdagangan Yang Kecil Yang Baru Dihuni Oleh 90-100 Orang Dan Dipimpin Oleh Aryo Timur Dan Berada Dibawah Pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur Digantikan Oleh Putranya Yang Bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus Mencoba Untuk Membangun Jepara Menjadi Kota Niaga.


Pati Unus Dikenal Sangat Gigih Melawan Penjajahan Portugis Di Malaka Yang Menjadi Mata Rantai Perdagangan Nusantara. Setelah Pati Unus Wafat Digantikan Oleh Ipar Faletehan /Fatahillah Yang Berkuasa (1521-1536). Kemudian Pada Tahun 1536 Oleh Penguasa Demak Yaitu Sultan Trenggono, Jepara Diserahkan Kepada Anak Dan Menantunya Yaitu Ratu Retno Kencono Dan Pangeran Hadiri Suami. Namun Setelah Tewasnya Sultan Trenggono Dalam Ekspedisi Militer Di Panarukan Jawa Timur Pada Tahun 1546, Timbulnya Geger Perebutan Tahta Kerajaan Demak Yang Berakhir Dengan Tewasnya Pangeran Hadiri Oleh Aryo Penangsang Pada Tahun 1549. Kematian Orang-Orang Yang Dikasihi Membuat Ratu Retno Kencono Sangat Berduka Dan Meninggalkan Kehidupan Istana Untuk Bertapa Di Bukit Danaraja. Setelah Terbunuhnya Aryo Penangsang Oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono Bersedia Turun Dari Pertapaan Dan Dilantik Menjadi Penguasa Jepara Dengan Gelar Nimas Ratu Kalinyamat.


Pada Masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara Berkembang Pesat Menjadi Bandar Niaga Utama Di Pulau Jawa, Yang Melayani Eksport Import. Disamping Itu Juga Menjadi Pangkalan Angkatan Laut Yang Telah Dirintis Sejak Masa Kerajaan Demak. Sebagai Seorang Penguasa Jepara, Yang Gemah Ripah Loh Jinawi Karena Keberadaan Jepara Kala Itu Sebagai Bandar Niaga Yang Ramai, Ratu Kalinyamat Dikenal Mempunyai Jiwa Patriotisme Anti Penjajahan. Hal Ini Dibuktikan Dengan Pengiriman Armada Perangnya Ke Malaka Guna Menggempur Portugis Pada Tahun 1551 Dan Tahun 1574. Adalah Tidak Berlebihan Jika Orang Portugis Saat Itu Menyebut Sang Ratu Sebagai Rainha De Jepara Senora De Rica, Yang Artinya Raja Jepara Seorang Wanita Yang Sangat Berkuasa Dan Kaya Raya.


Serangan Sang Ratu Yang Gagah Berani Ini Melibatkan Hamper 40 Buah Kapal Yang Berisikan Lebih Kurang 5.000 Orang Prajurit. Namun Serangan Ini Gagal, Ketika Prajurit Kalinyamat Ini Melakukan Serangan Darat Dalam Upaya Mengepung Benteng Pertahanan Portugis Di Malaka, Tentara Portugis Dengan Persenjataan Lengkap Berhasil Mematahkan Kepungan Tentara Kalinyamat. Namun Semangat Patriotisme Sang Ratu Tidak Pernah Luntur Dan Gentar Menghadapi Penjajah Bangsa Portugis, Yang Di Abad 16 Itu Sedang Dalam Puncak Kejayaan Dan Diakui Sebagai Bangsa Pemberani Di Dunia. Dua Puluh Empat Tahun Kemudian Atau Tepatnya Oktober 1574, Sang Ratu Kalinyamat Mengirimkan Armada Militernya Yang Lebih Besar Di Malaka. Ekspedisi Militer Kedua Ini Melibatkan 300 Buah Kapal Diantaranya 80 Buah Kapal Jung Besar Berawak 15.000 Orang Prajurit Pilihan. Pengiriman Armada Militer Kedua Ini Di Pimpin Oleh Panglima Terpenting Dalam Kerajaan Yang Disebut Orang Portugis Sebagai Quilimo. Walaupun Akhirnya Perang Kedua Ini Yang Berlangsung Berbulan-Bulan Tentara Kalinyamat Juga Tidak Berhasil Mengusir Portugis Dari Malaka, Namun Telah Membuat Portugis Takut Dan Jera Berhadapan Dengan Raja Jepara Ini, Terbukti Dengan Bebasnya Pulau Jawa Dari Penjajahan Portugis Di Abad 16 Itu.


Sebagai Peninggalan Sejarah Dari Perang Besar Antara Jepara Dan Portugis, Sampai Sekarang Masih Terdapat Di Malaka Komplek Kuburan Yang Di Sebut Sebagai Makam Tentara Jawa. Selain Itu Tokoh Ratu Kalinyamat Ini Juga Sangat Berjasa Dalam Membudayakan Seni Ukir Yang Sekarang Ini Jadi Andalan Utama Ekonomi Jepara Yaitu Perpaduan Seni Ukir Majapahit Dengan Seni Ukir Patih Badarduwung Yang Berasal Dari Negeri Cina. Menurut Catatan Sejarah Ratu Kalinyamat Wafat Pada Tahun 1579 Dan Dimakamkan Di Desa Mantingan Jepara, Di Sebelah Makam Suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu Pada Semua Aspek Positif Yang Telah Dibuktikan Oleh Ratu Kalinyamat Sehingga Jepara Menjadi Negeri Yang Makmur, Kuat Dan Mashur Maka Penetapan Hari Jadi Jepara Yang Mengambil Waktu Beliau Dinobatkan Sebagai Penguasa Jepara Atau Yang Bertepatan Dengan Tanggal 10 April 1549 Ini Telah Ditandai Dengan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi Atau Terus Bekerja Keras Membangun Daerah. Ratu Shima Atau Sima Adalah Nama Penguasa Kerajaan Kalingga, Yang Pernah Berdiri Pada Milenium Pertama Di Jawa. Tidak Banyak Diketahui Tentangnya, Kecuali Bahwa Ia Sangat Tegas Dalam Memimpin Dengan Memberlakukan Hukum Potong Tangan Bagi Pencuri. Salah Satu Korbannya Adalah Puteranya Sendiri.


Kerajaan Kalingga, Sebuah Kerajaan Di Pantura (Pantai Utara Jawa, Sekarang Di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) Beratus Tahun Yang Lalu, Bersinar Terang Emas, Penuh Kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima, Nan Ayu, Anggun, Perwira, Ketegasannya Semerbak Wangi Di Antero Nagari Nusantara. Sungguh, Meski Jargon Kesetaraan Gender Belum Jadi Wacana Saat Itu. Namun Pamor Ratu Shima Memimpin Kerajaannya Luar Biasa, Amat Dicintai Jelata, Wong Cilik Sampai Lingkaran Elit Kekuasaan. Kebijakannya Mewangi Kesturi, Membuat Gentar Para Perompak Laut. Alkisah Tak Ada Kerajaan Yang Berani Berhadap Muka Dengan Kerajaan Kalingga, Apalagi Menantang Ratu Shima Nan Perkasa. Bak Srikandi, Sang Ratu Panah. Konon, Ratu Shima, Justru Amat Resah Dengan Kepatuhan Rakyat, Kenapa Wong Cilik Juga Para Pejabat Mahapatih, Patih, Mahamenteri, Dan Menteri, Hulubalang, Jagabaya,Jagatirta, Ulu-Ulu, Pun Segenap Pimpinan Divisi Kerajaan Sampai Tukang Istal Kuda, Alias Pengganti Tapal Kuda, Kuda-Kuda Tunggang Kesayangannya, Tak Ada Yang Berani Menentang Sabda Pandita Ratunya.


Sekali Waktu, Ratu Shima Menguji Kesetiaan Lingkaran Elitnya Dengan Menukarkan Posisi Pejabat Penting Di Lingkungan Istana. Namun Puluhan Pejabat Yang Digantikan Ditempat Yang Tak Diharap, Maupun Yang Dipensiunkan, Tak Ada Yang Mengeluh Barang Sepatah Kata. Semua Bersyukur, Kebijakan Ratu Shima Sebetapapun Memojokkannya, Dianggap Memberi Barokah, Titah Titisan Sang Hyang Maha Wenang. Tak Puas Dengan Sikap Setia Lingkaran Dalamnya, Ratu Shima, Sekali Lagi Menguji Kesetiaan Wong Cilik, Pemilik Sah Kerajaan Kalingga Dengan Menghamparkan Emas Permata, Perhiasan Yang Tak Ternilai Harganya Di Perempatan Alun-Alun Dekat Istana Tanpa Penjagaan Sama Sekali. Kata Ratu Shima, segala Macam Perhiasan Persembahan Bagi Dewata Agung Ini Jangan Ada Yang Berani Mencuri, Siapa Berani Mencuri Akan Memanggil Bala Kutuk Bagi Kerajaan Kalingga, Karenanya, Siapapun Pencuri Itu Akan Dipotong Tangannya Tanpa Ampun!. Sontak Wong Cilik Dan Lingkungan Elit Istana, Bergetar Hatinya, Mereka Benar-Benar Takut. Tak Ada Yang Berani Menjamah, Hingga Hari Ke 40.


Ratu Shima Sempat Bahagia. Namun Malang Tak Dapat Ditolak, Esok Harinya Putera Mahkotanya Berjalan-Jalan Dan anpa Sengaja Kakinya Menyentuh Perhiasan Itu. Amarah Menggejolak Di Hati Sang Penguasa Kalingga. Segera Dititahkan Memotong Kaki Sang Pangeran Yang Tidak Lain Adalah Anak Kandungnya Sendiri, Para Petinggi Kerajaan Memohon Agar Hukuman Itu Dibatalkan Karena Bukan Niatan Sang Pengeran Untuk Mencurinya, Selain Dari Tersentuh Oleh Kakinya, Namun Sang Ratu Tetap Berkeras, Walau Akhirnya Akibat Begitu Banyaknya Desakan, Bahkan Dari Rakyatnya Sendiri, Maka Hanya Jari Kaki Sang Pangeranlah Yang Dipotong. Seluruh Penghuni Istana Dan Rakyat Jelata Yang Berlutut Hingga Alun-Alun Merintih Memohon Ampun, Namun Sang Ratu Tiada Bergeming Dari Keputusannya. Hukuman Tetap Dilaksankana. Hal Itu Dituliskan Dengan Jelas Di Prasasti Kalingga, Yang Masih Bisa Dilihat Hingga Kini.


Holing ( Chopo ) Adalah Nama Lain Dari Kerajaan Kalingga Ibukota Kerajaan Kalingga Bernama Chopo ( Nama China ), Menurut Bukti- Bukti China Pada Abad 5 M. Mengenai Letak Kerajaan Kalingga Atau Holing Ini Secara Pastinya Belum Dapat Ditentukan. Ada Beberapa Argumen Mengenai Letak Kerajaan Ini, Ada Yang Menyebutkan Bahwa Negara Ini Terletak Di Semenanjung Malaya, Di Jawa Barat Dan Di Jawa Tengah. Tetapi Letak Yang Paling Mungkin Ada Di Daerah Antara Pekalongan Dan Plawanagan Di Jawa Tengah. Hal Ini Berdasarkan Catatan Perjalanan Dari Cina. Kerajaan Kalingga Atau Holing Adalah Kerajaan Yang Terpengaruh Oleh Ajaran Agama Budha. Sehingga Holing Menjadi Pusat Pendidikan Agama Budha. Kerajaan Kalingga Sendiri Memiliki Seorang Pendeta Yang Terkenal Bernama Janabadra. Sebagai Pusat Pendidikan Budha, Menyebabkan Seorang Pendeta Budha Dari Cina, Menuntut Ilmu Di Holing ( Kerajaan Kalingga ). Pendeta Itu Bernama Hou Ei- Ning Ke Holing, Ia Ke Kerajaan Kalingga Untuk Menerjemahkan Kitab Hinayana Dari Bahasa Sansekerta Ke Bahasa Cina Pada 664-665. Sistem Administrasi Kerajaan Ini Belum Diketahui Secara Pasti. Tapi Beberapa Bukti Menunjukkan Bahwa Pada Tahun 674-675, Kerajaan Ini Diperintah Oleh Seoarang Raja Wanita Yang Bernama Sima.


Di Kerajaan Kalingga Atau Holing Sendiri Banyak Ditemukan Barang-Barang Yang Bercirikan Kebudayaan Dong-Song Dan India. Hal Ini Menunjukkan Adanya Pola Jaringan Yang Sudah Terbentuk Antara Kerajaan Kalingga Atau Holing Dengan Bangsa Luar. Wilayah Perdaganganya Meliputi Laut China Selatan Sampai Pantai Utara Bali. Tetapi Perkembangan Selanjutnya Sistem Perdagangan Di Kerajaan Kalingga Atau Holing Mendapat Tantangan Dari Sriwijaya, Yang Pada Akhirnya Perdagangan Dikuasai Oleh Sriwijaya. Sehingga Sriwijaya Menjadi Kerajaan Yang Menguasai Perdagangan Pada Pertengahan Abad Ke-8. Kalingga Adalah Sebuah Kerajaan Bercorak Hindu Di Jawa Tengah, Yang Pusatnya Berada Di Daerah Kabupaten Jepara Sekarang. Kerajaan Kalingga Telah Ada Pada Abad Ke-6 Masehi Dan Keberadaannya Diketahui Dari Sumber-Sumber Tiongkok. Kerajaan Kalingga Pernah Diperintah Oleh Ratu Shima, Yang Dikenal Memiliki Peraturan Barang Siapa Yang Mencuri, Akan Dipotong Tangannya. Putri Ratu Shima, Parwati, Menikah Dengan Putera Mahkota Kerajaan Galuh Yang Bernama Mandiminyak, Yang Kemudian Menjadi Raja Ke 2 Dari Kerajaan Galuh.


Ratu Shima Memiliki Cucu Yang Bernama Sanaha Yang Menikah Dengan Raja Ke 3 Dari Kerajaan Galuh, Yaitu Bratasenawa. Sanaha Dan Bratasenawa Memiliki Anak Yang Bernama Sanjaya Yang Kelak Menjadi Raja Kerajaan Sunda Dan Kerajaan Galuh (723-732m). Setelah Ratu Shima Mangkat Di Tahun 732m, Sanjaya Menggantikan Buyutnya Dan Menjadi Raja Kerajaan Kalingga Utara Yang Kemudian Disebut Bumi Mataram, Dan Kemudian Mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya Di Kerajaan Mataram Kuno. Kekuasaan Di Jawa Barat Diserahkannya Kepada Putranya Dari Tejakencana, Yaitu Tamperan Barmawijaya Alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya Menikahi Sudiwara Puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan Atau Bumi Sambara, Dan Memiliki Putra Yaitu Rakai Panangkaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar